Usaha orang Tua Dalam Memenuhi Hak Anak Dalam Memperoleh Pendidikan

Anak merupakan bagian dari warga masyarakat bahkan bangsa ini. Yang tentunya mempunyai hak yang layak dalam kehidupan ini. Di antaranya adalah pendidikan. Sebagai salah satu yang perlu diperoleh anak dalam mengarungi kehidupan di hari yang akan datang. Dalam hal ini dapat memperoleh pendidikan sesuai kebutuhan guna mencapai cita-cita merupakan dambaan setiap anak bangsa ini. Mereka berusaha untuk dapat memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera sebagai cita-citanya melalui proses pendidikan. Sehingga wajar kalau orang tua, masyarakat dan pemerintah berusaha memberikan hak anak yang berupa pendidikan tersebut.

Namun demikian walapun pendidikan dasar telah lama dicanangkan sebagai suatu kewajiban, yaitu berupa wajar 9 tahun, namun masih banyak jumlah anak yang belum dapat menikmati hak untuk memperoleh pendidikan tersebut secara optimal. Hal itu berkenaan dengan mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh peserta didik. Permasalahan ekonomi yang dialami orang tua atau keluarga seringkali menjadi kendala rutin dan rumit dalam kelangsungan pendidikan.

Berbagai upaya telah banyak kita lakukan untuk memberikan hak memperoleh pendidikan bagi anak tersebut. Oleh pemerintah telah diberikan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun dana BOS tersebut ternyata juga tidak dapat menjangkau seluruh operasional proses pendidikan dan pengajaran, sehingga orang tua juga harus masih banyak berperan dalam pendidikan. Terlebih berkenaan dengan biaya di luar operasional yang harus dikelola oleh lembaga pendidikan. Trasportasi, seragam, buku pelajaran dan lain-lainnya merupakan komponen yang harus banyak ditanggung oleh orang tua secara maksimal.

Di awal tahun ajaran baru merupakan waktu yang begitu memberatkan bagi orang tua. Di sejumlah SD di kecamatan Gubug walaupun telah ada dana BOS dari pemerintah juga masih memungut sejumlah iuran dari orang tua. Misalnya ketika kenaikan kelas tiap siswa dipungut Rp 10.000,- . Kemudian pada saat pendaftaran, karena adanya larangan pemungutan dengan nama uang pendaftaran karena telah didanai BOS, namun iuran dengan nama yang lain juga masih ada.

Sedang di tingkat lanjutan bervariasi sesuai kadar kualitas lembaga pendidikan yang bersangkutan. Misalnya di kecamatan Tegowanu sejumlah SMP yang berstatus negeri, tidak memungut biaya pendafatran peserta didik baru. Pada saat daftar ulang dikenakan biaya untuk membayar sejumlah iuran sampai dengan Rp 145.000,- Ada juga yang hanya memungut Rp 125.000,-  Kemudian setelah proses pembelajaran berjalan pemungutan iuran yang semula bernama SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) kini juga masih diterapkan dengan nama yang berbeda. Misalnya ada yang memberi nama SOP (Sumbangan Operasional Sekolah). Ada juga yang uang komite dan sebagainya. Tentang besarnya juga bervariasi. Kemudian di sejumlah sekolah swasta seperti di MTs Swasta di Kecamatan Tanggung, biaya pendidikan di Madrasah hanya Rp 1.000, - hal itu karena sudah ada bos dari pemerintah yang besarnya Rp 27.000/ bulan / siswa. Namun karena harus tinggal di asrama (pesantren) orang tua harus membayar biaya sebesar Rp 200.000,- per  tahun. Sedang biaya makan Rp 90.000,- / bulan. Namun karena jatah makan dari asrama hanya 2 kali sehari biasanya juga harus mengeluarkan biaya dengan total hingga Rp 400.000,- / bulan.

Jumlah itu memang dirasa cukup tinggi. Namun karena kualitas pendidikan yang disajikan dirasa orang tua juga mumpuni, mereka para orang tua juga tetap sanggup. Terlebih berkenaan dengan pendidikan yang memberikan pelajaran agama yang lebih tinggi. Banyak orang tua seperti di  Jatipecaron ini yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan keagaman di Brabo tersebut karena harapan untuk memperoleh pendidikan yang lebih religius tinggi. Harapan  pembentukan anak sholeh berakhlaq mulia menjadi dambaan utama.

Pungutan sejumlah itu bagi orang tua yang berkemampuan tinggi merupakan hal yang tidak memberatkan. Namun bagi kalangan  mereka yang berkemampuan menengah ke bawah tentu merupakan beban yang begitu memberatkan. Seorang wali murid dari Gubug, yang suami istri bekerja sebagai PNS dengan golongan IV juga merasa terbebani, dengan adanya pungutan tersebut. Namun beruntung mereka baru saja menerima gaji ke 13. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk biaya pendidikan bagi kedua anaknya. Baik yang mau masuk SMA maupun yang sudah di Perguruan Tinggi.

Namun bagi mereka yang berekonomi menengah ke bawah tentu merupakan beban yang cukup berat. Seperti orang tua yang tidak mau di sebut namanya di Gubug, yaitu yang  bekerja sebagai tukang becak. Anaknya yang bersekolah di sebuah SMA Swasta di Gubug  yang baru saja dinyatakan naik kelas XI (dulu kelas  2 SMA). Untuk daftar ulang di kelas ynag lebih tinggi tersebut harus membayar Rp 900.000,- . Jumlah yang cukup memberatkan bagi kalangan mereka. Sehingga berkenaan dengan hal tersebut ia banyak mengeluh.

Banyak siswa yang mengeluh karena merasa keberatan dengan adanya membayar biaya biaya pendidikan. Akibatnya siswa yang putus sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di rasa lebih banyak. Hal itu  karena mereka merasa tidak mampu membayarnya. Merasa terbebani dengan adanya administrasi sekolah.

Melalui BOS diharapkan dapat terselenggara progam pendidikan murah. Di antaranya berupa SMP terbuka. Lembaga ini diperuntukkan bagi mereka yang karena keterbatas biaya dan waktu, yaitu misalnya harus membantu orang tua  dalam mencari nafkah. Progam tersebut mulai di rasakan oleh banyak kalangan pelajar khususnya wajib belajar 9 tahun. Banyak  kabupaten/kota  yang sudah mulai menjalankan progam tersebut. kegiatan positif tersebut telah di rasakan oleh banyak siswa dan semangat belajar karena yang tidak mampu sekolah bisa menikmati haknya untuk memperoleh pendidikan melalui wajib belajar 9 tahun.

Kegiatan tersebut selain didukung pemerintah pusat juga di jalankan oleh pemerintah kabupaten bahkan masyarakat ikut memberi dukungan sepenuhnya kepada anak-anaknya.  Hal itu membuat siswa tidak akan patah semangat dalam menggapai cita-citanya dan masa depan yang baik. Karena pemerintah memberikan bantuankepada mereka untuk mencapai  cita-cita yang luhur.Sebagai usaha untuk mencerdaskan Bangsa agar tidak terjerat dalam kebodohan memang sudah menjadi tekad bangsa yang perlu pendapat dukungan seluruh komponen masyarakat. .

Pendidikan Murah

Bos (Bantuan Operasional Sekolah -red) merupakan salah satu upaya dari dari pemerintah untuk mewujudkan pendidikan murah. Program ini sudah banyak  tersebar di beberapa daerah termasuk bagi merekaa yang belajar di selokah swasta. salah satunya di MTs Tajul Ulum sudah ada Bos sejak dua tahun yang lalu dengan adanya Bos biaya sekolah tidak terasa berat karena dulunya para siswa harus membayar Rp 17.000,- / bulan sekarang hanya Rp 1.000,00 perbulan. Hal itu dirasa dapat benar-benar meringankan beban orang tua, karena dirasa sangat murah.

Sejumlah kalangan pendidikan mengungkapkan tentang dana Bos,  yaitu  berharap agar dana tersebut lancar. Sehingga siswa yang ingin mengenyam pendidikan semakin meningkat setiap tahunnya karena merasa tidak terbebani oleh biaya pendidikan. Memang pendidikan sangat penting bagi anak-anak Bangsa.


Oleh : Mukhaelani
Sumber : Majalah Gema Bersemi Edisi 05/XV/Tahun 2010

Comments  

 
0 #2 april lia 2011-10-11 15:28
:cry: aku sedih
Quote
 
 
0 #1 april lia 2011-10-11 15:24
aku sedih mendegar cerita ini :cry:
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Written by skpd

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Statistik Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday427
mod_vvisit_counterYesterday154
mod_vvisit_counterThis week1041
mod_vvisit_counterThis month6823
mod_vvisit_counterAll days11221

We have: 7 guests online
Your IP: 54.82.31.133
 , 
Today: Oct 21, 2014